fuckyeahbelitungbarat:

Imperfeição: Story in the twilight

moldice:

Suatu cerita singkat dari seorang Pedagang Bubur Ayam

yap yap, Kami suka memanggilnya mang Aep,beliau merupakan salah satu pedagang di Kantin sekolah Kami.

Mang Aep, itulah sapaan akrab anak-anak kampus Belitung. Sapaan hangat itu mulai didengar beliau sejak tahun 1978. ya, 32 tahun lalu mang Aep kecil sudah mulai berkelut didunia perdagangan, sejak keluar dari Sekolah Dasar dia mengadu nasibnya di Kota Bandung bersama kakaknya. Dari Kota Tasik mereka melakukan perjalanan panjang dengan penuh cerita dan perjuangan.

umurnya saat itu masih sangat remaja untuk memulai mendorong gerobak bubur, bubur yang khas dengan resep warisan orang tuanya. Mang Aep dan kakaknya itu tinggal di daerah Jalan Malabar, berawal dari penjajakan kecil di daerah Malabar, bubur Mang Aep ini sudah mulai akrab di lidah tetangga lingkungan sekitar.

Mang Aep kecil yang sangat akrab dengan kehidupan alam ini sangat gemar dengan olah raga tinju, tentunya tak akan terlewatkan jika Muhamad Ali tampil di televisi. Perjalanan ke Gunung-gunung di kota Bandung yang dahulu masih sangat suci dari kehadiran kendaraan bermotor pun tak luput Mang Aep jelajahi.

Berlanjut dari penjajakan sekitar Jalan Malabar, Mang Aep sempat Berjualan di SLTP Negeri 5, lalu berlanjut untuk mengisi Kantin SMU Negeri 3. Saat itu Mang Aep sempat sangat pasrah dikarenakan pesaing untuk mengisi nama ‘Tukang Bubur’ di kantin baru SMU Negeri 3 itu cukup banyak. Karena saat itu, pedagang yang akan menjajakkan dagangannya harus melewati tahap seleksi. Namun akhirnya Mang Aep yang terpilih untuk mengisi tempat berjualan bubur, tentunya tak lepas dari rasa syukur mendapatkan tempat yang pasti dan nyaman untuk berjualan.

Ya, ya, ya, kantin Berbilik dan beratapkan genteng itu cukup nyaman baginya, walau sering dikatakan kantin kandang sapi oleh siswa Kampus Belitung. Tahun 2000an kantin sudah mulai di renovasi pedagang-pedagang pun sudah mulai bergantian, Mang Aep di temani, Mang Ajid yang berjualan batagor, Mang Sambun, Ibu Roti, Pak Rosid, Mang Cepi, dan Pak Dadang sebagai tukang parkir tetap memberi suasana di Kantin ini hingga sekarang.

Ketika waktu sudah mulai bergulir panjang, jingganya senja sudah sangat sulit dimaklumi,sepi dan kini hilang lah perih. Ukiran senyum selalu terpasung bersih di mukanya.

Kantin megah dengan kolom kokoh sudah cukup untuk menaungi enam belas pedagang yang berjualan di bawah atapnya. Tapi kekokohan itu belum bisa menyangga perasaannya.

“Kalau Senen ama Kamis mah, nyiapin makanannya dikit aja, abis anak-anak banyak yang shaum Senen Kamis”

nah, “Biasanya tiap Jumat dan Sabtu, Mang Aep sama pedagang yang laen mah suka nyiapin lebih Makanan, da eta mah khusus buat para Alumni yang suka dateng ke sekolah” tapi nyatanya, sekarang ..setiap akhir pekan kehadiran keluarga Alumni sudah jarang tampak.

Ya, mungkin kesibukan yang sekarang sudah berbeda dengan tiga sampai empat tahun lalu, atau mungkin lebih.Waktu memang terus Bergulir, inilah kenyataan, fenomena di kantin yang sudah terjadi.

Sudahlah, sudah cukup sore, sudah waktunya pulang dan menemui istri di rumah

sampai jumpa~

(via cannedfood)

posted 1 year ago